Selamat Datang Di Blog Pengingat Diri, Jangan Lupa Tinggalkan Komentar, Terima Kasih

____________________________________________________________________________________________________

Satu Kata dan Perbuatan

Sering kali kita mendengar ceramah dari Aa’ Gym yang beliau sebut dengan 3M, Mulai dari Sekarang, Mulai dari Hal yang Kecil dan Mulai dari Diri Sendiri.

Ternyata ‘M’ yang terakhir, sering kita abaikan kita ingin orang lain mengikuti apa yang kita katakan namun kita sendiri terkadang lalai dengan perkataan kita sehingga kita mala dianggap remeh oleh orang lain.

Kita ingin orang melakukan perubahan namun kita sendiri jauh dari perubahan itu ibarat calo’ penumpang kita hanya mengajak orang untuk naik kendaraan sementara orang lain telah sampai ke tujuan kita sendiri masih di tempat semula. Bukankah Allah sangat membenci orang yang berkata tetapi ia sendiri lalai dengan perkataannya.

Semoga kita semua dapat memperbaiki diri dan dapat menjaga lisan hingga kita dapat menjalankan apa-apa yang ingin kita ucapkan.

Ketawadhu'an Umar bin Khaththab

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab, beliau mengirim kaum muslimin untuk berperang melawan bangsa Persia. Perang ini terkenal dengan sebutan Perang Qadisiah.

Berkat pertolongan Allah, Kaum Muslimin yang dikomandani oleh Sa'ad bin Abi Waqqas berhasil memenangkan pertempuran. Sa'ad lalu menulis sepucuk surat yang mengabarkan kemenangan heroik tersebut kepada Amirul Mukminin di Madinah. Surat itu dibawa oleh salah seorang mujahid di antara mereka.

Di penghujung kota Madinah, Umar bertemu dengan Sang Mujahid, "Hai hamba Allah, ceritakan padaku bagaimana keadaan kalian?" Tanya Khalifah, "Sesungguhnya atas bantuan Allah, kaum Musyrikin telah hancur." Jawab mujahid tadi. Sang Mujahid sama sekali tidak tahu bila yang menjemputnya itu adalah Amirul Mukminin, karena ia belum pernah melihat wajah Sang Khalifah, iapun tidak turun dari untanya sampai keduanya masuk kota.
Kaum Muslimin sedikit heran dengan kejadian itu. Mereka lalu mengucapkan salam kepada Umar. Setelah itu, Sang Mujahid sadar. "Semoga Allah merahmatimu, kenapa Engkau tidak berterus terang bahwa Engkau adalah Amirul Mukminin?" ujarnya sungkan. Umar menjawab ringan, "Tak masalah wahai Saudaraku."

Ketawadhu'an Khalifah Umar bin Khaththab sangat sering kita dengar dan baca, salah satunya kisah ini, beliau menjemput sendiri utusan pasukan muslimin, tanpa dengan kebesaran dan pengawalan.
Ketauladanan Beliau semoga menjadi motivator kita dalam menjalani kehidupan untuk selalu ingat bahwa kita semua hakikatnya sama di sisi Allah SWT.

Dikutip dari berbagai sumber

Do'a dari Keranjang Tempe

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, tempat tinggal seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia
lakukan sebagai menyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir
keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.


"Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya." demikian dia selalu memaknai hidupnya.


Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi.......deg !! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.


Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, ditengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."


Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh.



Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."



Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut.



"Keajaiban Tuhan akan datang....pasti, " yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "kehendak" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.



"Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan.... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, airmata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi?



Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Allah telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan.



Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat. Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya.


"Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??" Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ...."
Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "Jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ...."


"Bagaimana Bu ? Apa ibu menjual tempe setengah jadi ?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca ?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi ! "Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"



"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu ?"



Sahabatku, ini kisah yang biasa bukan ? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa.....dan "memaksakan" agar .....Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal, Allah paling tahu apa yang paling
cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna..

Sumber : email sahabat

Gubernur Termiskin

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khaththab menerima utusan dari Syam dan melaporkan beberapa kebutuhan mereka sebagai rakyat. Kemudian Umar memintanya untuk menuliskan nama-nama orang miskin di Syam. Ketika daftar nama orang miskin di baca oleh Umar, ia terkejut mendapati nama Said bin Amir tercantum dan bertanya, "apakah ini Said gubernur kalian?" "Ya itu Said gubernur kami" jawab utusan Syam. "Dia termasuk daftar orang-orang miskin?" tanyanya kembali mempertegas. "Ya" jawab mereka meyakinkan Umar. Umar kemudian pergi ke baitul mal dan mengambil sebuah kantong dan memberikannya kepada utusan, dan berkata, "berikan ini kepada gubernur kalian."

Rombongan tersebut kembali ke Syam dan menyampaikan amanat Khalifah kepada Said, Said kemudian membuka kantong tersebut dan ternyata isinya uang seribu dinar, "innalillahi wainna ilaihi roji'un," kata Said ketika mengetahui isi kantong tersebut. Ternyata ucapan Said terdengar istrinya. "Apakah Amirul Mukminin meninggal?" Tanya istrinya. "Tidak, tapi musibah yang lebih besar dari itu," jawab Said. Keesokannya Said memerintahkan orang kepercayaannya untuk membagikan uang itu kepada janda, anak-anak yatim dan orang miskin tanpa tersisa. Said berkata, "dunia telah memasuki diriku untuk merusak kehidupan akhiratku."

Said bin Amir adalah sahabat Rasulullah SAW. Walaupun namanya tidak semasyhur nama-nama sahabat Nabi yang terkenal, ia adalah seorang yang taqwa dan tak menonjolkan diri, ia tak pernah absen dalam setiap perjuangan dan jihad yang dihadiri Rasulullah.
Ketika Khalifah memintanya menjadi Gubernur Syam, Said menolak dengan halus seraya berkata, "Jangan kau jerumuskan aku ke dalam fitnah." Walau akhirnya ia menerima jabatan itu sebagai ketaatan kepada Khalifah yang bersiteguh untuk mengangkatnya sebagai Gubernur Syam.

Kita mungkin tidak akan mampu mengikuti langkah yang ditempuh Sang Gubernur, namun setidaknya kita dapat menghindari fitnah yang lebih besar, dengan tidak memanfaatkan fasilitas yang negara berikan secara berlebihan.

Dikutip dari berbagai sumber.

Hakikatnya...

Suatu waktu di desa yang tidak bisa disebutkan, pada waktu itu memasuki musim panen. Keluarga Pak Tua memiliki sawah yang cukup luas, panen tahun itu membuahkan hasil yang memuaskan bagi keluarga ini. ketika menjemur padi, panas tidak begitu terik sehingga padi yang melimpah tersebut belum layak diolah. Karena banyaknya padi yang dijemur keluarga ini tidak mengangkutnya ke rumah namun dibiarkan di halaman dengan harapan besok tidak perlu mengangkut keluar halaman lagi.

Besoknya ketika akan membuka penutup tumpukan padi untuk dihamparkan kembali, Pak Tua melihat ada sedikit bekas cedukan Pak Tua bertanya pada anaknya yang membantu, "apakah engkau mengambil sebagian dari padi-padi itu?" karena tidak mengambil anaknya menidakkan pertanyaan ayahnya. Pak Tua berpikir, "ah cuma sedikit yang hilang, lagi pula mungkin ada ayam yang mengais padi mereka sebelum mereka bangun tidur".

Esoknya ketika padi yang lain juga belum kering Pak Tua kembali mengulang penjemuran seperti hari sebelumnya, pagi harinya kembali ia melihat ada bekas gundukan padi yang terjamah oleh sesuatu yang bukan bekas binatang. Ia bermaksud menyelidiki hal tersebut bersama anaknya ia melakukan pengintaian pada malam harinya. Setelah Sholat Isya' dan makan malam sang ayah mengajak anaknya untuk mengontrol tumpukan padi mereka, ternyata terlambat gundukan padi sudah terbongkar, tutup atasnya tidak dikembalikan sebagaimana semula. Pak Tua berpikir sang pelaku pasti belum jauh, ia mengajak anaknya untuk melakukan pengejaran, karena ada bekas jejak di jalan tidak sulit bagi mereka melukan pelacakan. Sampai di ujung lorong mereka berhentti karena ceceran padi hilang di sana, pandangan Pak Tua tertuju pada sebuah gubuk, ia mendekat dan mengintip ke dalam. Ia melihat seorang ibu tua dan anak-anak yang masih kecil sedang menumbuk padi-nya di sebuah lesung. Pak Tua tertegun, kemudian yang terjadi adalah ia mengajak anaknya pulang dan berkata, "ambil karung, isi penuh dengan padi yang sudah kering antar ke rumah si Ibu Tua". Anaknya merasa heran dan bertanya, "kenapa kita harus melakukan itu, Bukankah mereka telah mencuri padi milik kita?". Dengan sedikit meneteskan air mata sang bapak berkata, "Bukan mereka yang mencuri milik kita namun hakikatnya KITALAH PENCURI ITU".

Kisah ini saya baca (mungkin saya dengar) puluhan tahun silam namun terus menjadi ingatan yang tak terlupakan, semoga kesadaran seperti Pak Tua tertanam selalu di hati kita, mudah-mudahan Allah selalu memberi kemurahan rezeki kepada kita sehingga kita dapat selalu berbagi kepada sesama.... Amiin

Kenalan Lagi...

Pada tahun 1996 saya lulus SMA di Inderalaya Ogan Ilir Jurusan Biologi sebagaimana saya kenalkan sebelumnya dengan predikat memuaskan (setidaknya untuk saya pribadi) kemudian setelah itu saya menjalani masa-masa pengenalan diri, tahun 1999 saya sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di sekolah menengah pertama yang ada di desa kami ini berlangsung sampai saya menikah. Oh ya, saya menikah pada tahun 2002, tepatnya 13 Januari dengan wanita cantik bernama MULYATI, saat ini saya telah dikaruniai dua orang puteri ALYA PUTRI SALSABILA (15 April 2003) dan ANNIDA RAHMAWATI (5 Juli 2005).
Pada tahun 2003 sebelum anak pertama kami lahir saya memutuskan berhenti dari sekolah, maklum penghasilan tidak mencukupi untuk menghidupi calon anak dan isteri.

Sambil mengajar saya tidak berhenti untuk mengikuti berbagai tes kerja terutama di instansi pemerintah. Pada 2004 akhir saya ikut tes di Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) Kabupaten Banyuasin, siapa sangka LULUS. Ini sekaligus membuktikan bahwa pada tahun itu masih ada seleksi pegawai tanpa sitem KKN.
Tahun 2005 saya resmi mengabdi di Kementerian Agama Kabupaten Banyuasin sampai dengan sekarang.

Berharap diri lebih baik lagi dari sebelumnya tentu saja menjadi komitmen saya, lebih baik dari segi kepribadian, pergaulan dan sebagainya tentu saja di segi pengabdian kepada Sang Kholiq. Semoga saya bisa Istiqomah. Amiin...

Beda Sedikit


Ternyata sifat kita dengan sifat Rasulullah SAW hanya beda "Sedikit" yaitu Rasulullah SAW sedikit tidur, kita sedikit-sedikit tidur.
Rasulullah SAW sedikit makan, kita sedikit-sedikit makan.
Rasulullah SAW sedikit marah, kita sedikit-sedikit marah.
Rasulullah SAW sedikit bergurau, kita sedikit-sedikit bergurau.

Rasulullah SAW sedikit-sedikit beramal, kita sedikit beramal.
Rasulullah SAW sedikit-sedikit berkorban untuk Islam, kita sedikit berkorban untuk Islam.

Kapan kita akan berusaha mengejar perbedaan yang hanya sedikit tersebut.

Thank tO sobat yang ngirim SMS